KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin,
atas nikmat yang senantiasa Allah
tiada terbatas. Segala puji penulis haturkan kepada Allah Tuhan seru sekalian
alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terukur
besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
KERAJAAN ISLAM DI SULAWESI
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada: Bapak dan Ibu guru pembimbing yang telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah
semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis
berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu
ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata penulis
berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN 1.1
Latar Belakang ............................................................................................................
Rumusan Masalah ......................................................................................................
Tujuan Pembelajaran
..................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
Kerajaan Gowa Tallo
...................................................................................................
Kerajaan Ternate
......................................................................................................
BAB III PENUTUP Kesimpulan...............................................................................................................
Kritik dan Saran
.........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN 1.1
Latar Belakang Agama Islam sudah
dikenal masyarakat sejak dahulu. Banyak sekali cara penyebaran agama islam
sehingga dapat diterma dengan mudahnya oleh masyarakat. Dalam hal ini, dahulu
islam berkembang melalui kerajaan
kerajaan di Nusantara.
Kerajaan Islam berkembang pesat di nusantara baik berasal dari penyebaran oleh
para pedangang maupun melalui media lainnya. Seiring dengan persebaran agama
Islam di nusantara banyak didirikan kerajaan Islam. Salah satu Kerajan Islam
tertua di kawasan timur nusantara ialah Kerajaan Ternate, kerajaan ini berdiri
pada abad ke-13 hingga abad ke-17. Kerajaan Ternate pada umumnya disebut
kesultanan Ternate memiliki kekuatan besar dibidang perekonomian karena
memiliki kekayaan rempah-rempah dan daerah ini mengalami eksodus penduduk dari
Halmahera. Oleh sebab tersebut Kerajaan Ternate memiliki pengaruh besar
terhadap perdagangan di nusantara dan padat penduduk. Kerajaan Islam yang
berkedudukan di Maluku setelah Kerajaan Ternate ialah Kerajaan Tidore. Kerajaan
Tidore berdiri pada tahun 1108 M dibawah kekuasaan Kolonel Belanda. Belanda
berusaha untuk memonopoli bumi Maluku karena memiliki kekayaan rempah-rempah
yang melimpah. Kerajaan Tidore mengalami masa kejayaan pada era Sultan Nuku
dengan keadaan system pemerintahan yang telah berjalan dengan baik. Dalam
menghadapi penjajahan Kolonial Belanda, Kerajaan Tidore mendapat bantuan dari
Kerjaan Makassar yang berkedudukan di Pantai barat semenanjung Sulawesi Selatan
untuk berjuang melawan Kolonial Belanda. Kerajaan Makassar menjadi persinggahan
para pedagang karena lokasinya strategis dengan jalur perdagangan nusantara.
Meskipun memiliki kekuatan yang besar dibawah kepemimpinan Sultan Hassanudian,
Belanda mampu menumbangkan kejayaannya dengan melakukan politik devide et
impera dan berdiplomasi dengan kerajaan Bone yang diperintah oleh Raja Aru
Palaka melakukan pemberontakan terhadap Makassar. Kerajaan tersebut diatas
berperan penting dalam persebaran Islam, keadaan perekonomian, budaya, serta
politik pemerintahan di nusantara.
3
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Agama Islam sudah dikenal masyarakat
sejak dahulu. Banyak sekali cara penyebaran agama islam sehingga dapat diterma
dengan mudahnya oleh masyarakat. Dalam hal ini, dahulu islam berkembang melalui
kerajaan
–
kerajaan di Nusantara.
Kerajaan Islam berkembang pesat di nusantara baik berasal dari penyebaran oleh
para pedangang maupun melalui media lainnya. Seiring dengan persebaran agama
Islam di nusantara banyak didirikan kerajaan Islam. Salah satu Kerajan Islam
tertua di kawasan timur nusantara ialah Kerajaan Ternate, kerajaan ini berdiri
pada abad ke-13 hingga abad ke-17. Kerajaan Ternate pada umumnya disebut
kesultanan Ternate memiliki kekuatan besar dibidang perekonomian karena
memiliki kekayaan rempah-rempah dan daerah ini mengalami eksodus penduduk dari
Halmahera. Oleh sebab tersebut Kerajaan Ternate memiliki pengaruh besar
terhadap perdagangan di nusantara dan padat penduduk. Kerajaan Islam yang
berkedudukan di Maluku setelah Kerajaan Ternate ialah Kerajaan Tidore. Kerajaan
Tidore berdiri pada tahun 1108 M dibawah kekuasaan Kolonel Belanda. Belanda
berusaha untuk memonopoli bumi Maluku karena memiliki kekayaan rempah-rempah
yang melimpah. Kerajaan Tidore mengalami masa kejayaan pada era Sultan Nuku
dengan keadaan system pemerintahan yang telah berjalan dengan baik. Dalam
menghadapi penjajahan Kolonial Belanda, Kerajaan Tidore mendapat bantuan dari
Kerjaan Makassar yang berkedudukan di Pantai barat semenanjung Sulawesi Selatan
untuk berjuang melawan Kolonial Belanda. Kerajaan Makassar menjadi persinggahan
para pedagang karena lokasinya strategis dengan jalur perdagangan nusantara.
Meskipun memiliki kekuatan yang besar dibawah kepemimpinan Sultan Hassanudian,
Belanda mampu menumbangkan kejayaannya dengan melakukan politik devide et
impera dan berdiplomasi dengan kerajaan Bone yang diperintah oleh Raja Aru
Palaka melakukan pemberontakan terhadap Makassar. Kerajaan tersebut diatas
berperan penting dalam persebaran Islam, keadaan perekonomian, budaya, serta
politik pemerintahan di nusantara
1.2Rumusan
Masalah
1.2.1 Bagaimana kehidupan politik, ekonomi
sosial dan budaya di Kerajaan Gowa Tallo?
Bagaimana kehidupan politik, ekonomi
sosial dan budaya di Kerajaan Ternate?
Bagaimana kehidupan politik, ekonomi
sosial dan budaya di Kerajaan Tidore?
1.3Tujuan Pembelajaran
1.3.1Mengetahui kehidupan politik,
ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Gowa Tallo
1.3.2Mengetahui kehidupan politik,
ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Ternate
1.3.3Mengetahui kehidupan politik,
ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Tidore
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1Kerajaan Gowa Tallo
2.1.1Awal Berdirinya
Pada awalnya di daerah
Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang
(Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo,
Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili.
Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung
untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh
Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain
menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama
adalah Batara Guru dan saudaranya
2.1.2 Kehidupan
Ekonomi Seperti yang kita ketahui bahwa kerajaan Makasar merupakan kerajaan
Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal
ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak yang strategis, memiliki
pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis
tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia
Timur
2.1.3 Kehidupan
Sosial Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah
nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf
kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah
kemakmuran hidupnya.
2.1.5 Kehidupan
Budaya Karena kerajaan Makassar bersifat maritime maka kebudayaannya
dipengaruhi oleh keadaan tersebut, seperti pembuat alat penangkap ikan dan
kapal pinisi. Sampai sekarang kapal pinisi dari Sulawesi Selatan masih menjadi
salah satu kebanggan bangsa Indonesia. Disamping itu, masyarakat kerajaan
Makassar juga mengembangkan seni sastra, yaitu kitab Lontara.
2.1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum
Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah
barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini
2.1.7Kesimpulan
Kesultanan Gowa atau
kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang
terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku
Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Pada awalnya
di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate
Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa:
Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan
Kalili. Sejak Gowa Tallo sebagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin
hubungan dengan Ternate yang sudah menerima Islam dari Gresik. Raja Ternate
yakni Baabullah mengajak raja Gowa Tallo untuk masuk Islam, tapi gagal. Baru
pada masa Raja Datu Ri Bandang datang ke Kerajaan Gowa Tallo agama Islam mulai
masuk ke kerajaan ini.
2.2Kerajaan Ternate
2.2.1Gubahan Kesultanan menjadi Kerajaan
Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibu
kotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah
satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada
1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara
antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan
di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya.
Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara,
timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh di kepulauan
marshall di pasifik.
2.2.2 Asal Usul
Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal
abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera.
Awalnya di Ternate terdapat empat kampung yang masing - masing dikepalai oleh
seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama
tama mengadakan hubungan
dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah rempah.
Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu
dan Tionghoa
2.2.3Organisasi kerajaan Di masa
masa awal suku Ternate
dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang
seorang raja yang disebut Kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi
secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan
Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar Sultan.
Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.
2.2.4 Kedatangan Islam
Tak ada sumber yang jelas mengenai
kapan awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan
sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate telah mengenal Islam
mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu.
Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun
kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan
oleh banyak sumber. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate
resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.
2.2.5 Kedatangan Portugal dan perang
saudara
Di masa pemerintahan sultan bayanullah (1500-1521), Ternate semakin berkembang, rakyatnya
diwajibkan berpakaian secara islami, teknik pembuatan perahu dan senjata yang
diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate.
Di masa ini pula datang orang Eropa pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo
(Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun 1512 Portugal untuk pertama kalinya
menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan Fransisco Serrao, atas
persetujuan Sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate.
Gubernur Portugal bertindak sebagai
penasihat kerajaan dan dengan pengaruh yang dimiliki berhasil membujuk dewan
kerajaan untuk mengangkat pangeran Tabariji sebagai sultan. Tetapi ketika
sultan tabariji mulai menunjukkan sikap bermusuhan, ia difitnah dan dibuang ke
Goa
India. Disana ia dipaksa
Portugal untuk menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan
Kristen dan vasal kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah
sultan khairun (1534-1570). 2.2.6
Kedatangan Belanda Sepeninggal
Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan
Portugal tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate.
Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun
menjalin aliansi dengan Mindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal bahkan
sultan Said Barakati berhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila.
2.2.6 Kedatangan Belanda
Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai
melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencoba
menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol
memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi dengan
Mindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal bahkan sultan Said Barakati
berhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila. Kekalahan demi kekalahan yang
diderita memaksa Ternate meminta bantuan Belanda tahun 1603
2.2.7 Perlawanan rakyat Maluku
dan kejatuhan Ternate
Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda
pada sultan
sultan Ternate semakin kuat,
Belanda dengan leluasa mengeluarkan
peraturan yang merugikan rakyat
lewat perintah sultan, sikap Belanda yang kurang ajar dan sikap sultan yang
cenderung manut menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17,
setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat
Maluku.
2.2.8Warisan Ternate
Imperium nusantara timur yang dipimpin Ternate
memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai
kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad
kemudian. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian
timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu
mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.
2.2.9 Kehidupan Ekonomi
Tanah di Kepulauan maluku itu subur
dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh
dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan
pala. Pada abad XIV, kerajaan Ternate mulai maju karena berkembangnya perdagangan rempah-rempah.Pesatnya
perkembangan perdagangan keluar dari
maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan
2.2.10 Kehidupan Sosial
Kedatangan bangsa Portugis di
kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin
perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga
ingin mengembangkan agama katholik. Sultan Sairun adalah tokoh yang paling keras melawan orang Portugis dan usaha Kristenisasi
di Maluku. Tokoh missi Katholik yang
pertama di Maluku ialah Fransiscus Zaverius tahun 1546 M, ia berhasil mengkhatolikkan sebagian dari penduduk
Maluku.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kerajaan Makassar atau Gowa Tallo berdiri abad
ke-17 yang merupakan daerah islam yang berkembang cepat sebagai daerah
maritime. Dibawah pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makassar meningkatkan
sector perdagangan dan pelayaran. Tampuk kekuasaan yang mencapai puncak
kejayaan ialah pada masa Sultan Hassanudin. Meskipun sering terjadi pertikaian
menghadapi Belanda, tetapi ketangguhan Sultan Hassanudin tidak terklahkan.
Ternate dan Tidore ialah awal kemasyuran rempah-rempah nasional didukung dengan
jalur perdagangan yang strategis serta perkebunan rempah-rempah di pulau-pulau
subur sebelah selatan Maluku. Kerajaan Ternate bersekutu dengan Portugis,
sedangkan Kerajaan Tidore dibantu oleh Spanyol. Kedua bangsa kulit putih, yaitu
Portugis dan Spanyol bermusuhan memperebutkan kekuasaan monopoli. Namun, pada
akhir perjuangan Kerajaan Ternate dan Tidore berdamai serta memberontak melawan
Kolonial Belanda.
3.2 Kritik dan Saran
Dalam makalah ini
dimuat pembahasan dari empat aspek kehidupan, akan lebih baik jika aspek yang
diulas cakupannya lebih luas lagi sehingga pembaca mampu memahami sejarah
persebaran Islam di nusantra. Pembagian Kerajaan menjadi 3 daerah besar, yaitu
Jawa, Sulawesi, dan Sumatera kurang fokus dan tidak secara umum. Sehingga untuk
kedepannya bisa dibuat makalah pada kehidupan masing-masing Kerjaan dengan mempertimbangkan
fakta sejarah secara oral atau dapat melalui penelitian dengan teori-teori yang
termuat dalam media cetak maupun media elektronik.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Atjo, Rulis. 1989.
Peninggalan Sejarah Masa Lampau di Pulau Ternat.Makalah: Ambon.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997.
TERNATE SEBAGAI BANDAR DI JALUR SUTRA: Kumpulan Makalah Diskusi
.
Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Jenderal
Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktori
masjid Bersejarah
.
2008. Departemen Agama RI, Direktorat Jendral Bimbingan
Masyarakat
Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan pembiaan Syari’ah: Jakarta.
Huda
Nur. 2007.
Islam
Nusantara Ar-ruzz
.
Yogyakarta: Media. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto
(Peny). 1984.
Sejarah Nasional Indonesia III
.
Jakarta: Balai Pustaka. Reid Anthony. 1992
.
Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
TKS-DITJENBUD.
1995. “Istana Kesultanan Ternate,”
Aneka
Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI
.
Jakarta: Depdikbud. Vie Haluchard. 2012.
Ternat Island
,
(online), (file:///D:/fd%20new/SIMI%20GAMBAR/ternate-tourisem-obyek.html),
diakses 16 Desember 2012. Wikipedia. 2009.
Masjid
Sultan Ternate
,
(online), (file:///D:/fd%20new/SIMI%20GAMBAR/Masjid_Sultan_Ternate.htm),
diakses 10 Februari 2009. Zuhairini dkk. 2006.
Sejarah Pendidikan Islam
.
Jakarta: Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar