Sabtu, 07 November 2015




KATA PENGANTAR
 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  Alhamdulillahirabbilalamin,
atas nikmat yang senantiasa Allah tiada terbatas. Segala puji penulis haturkan kepada Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terukur besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul

KERAJAAN ISLAM DI SULAWESI

 Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: Bapak dan Ibu guru pembimbing yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.











 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................
 DAFTAR ISI ........................................................................................................................   
BAB I
 PENDAHULUAN 1.1

Latar Belakang ............................................................................................................  

Rumusan Masalah ......................................................................................................  

Tujuan Pembelajaran ..................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
Kerajaan Gowa Tallo ...................................................................................................
Kerajaan Ternate ......................................................................................................
BAB III PENUTUP Kesimpulan...............................................................................................................
Kritik dan Saran .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................
 











BAB I PENDAHULUAN 1.1

Latar Belakang Agama Islam sudah dikenal masyarakat sejak dahulu. Banyak sekali cara penyebaran agama islam sehingga dapat diterma dengan mudahnya oleh masyarakat. Dalam hal ini, dahulu islam berkembang melalui kerajaan
 kerajaan di Nusantara. Kerajaan Islam berkembang pesat di nusantara baik berasal dari penyebaran oleh para pedangang maupun melalui media lainnya. Seiring dengan persebaran agama Islam di nusantara banyak didirikan kerajaan Islam. Salah satu Kerajan Islam tertua di kawasan timur nusantara ialah Kerajaan Ternate, kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 hingga abad ke-17. Kerajaan Ternate pada umumnya disebut kesultanan Ternate memiliki kekuatan besar dibidang perekonomian karena memiliki kekayaan rempah-rempah dan daerah ini mengalami eksodus penduduk dari Halmahera. Oleh sebab tersebut Kerajaan Ternate memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan di nusantara dan padat penduduk. Kerajaan Islam yang berkedudukan di Maluku setelah Kerajaan Ternate ialah Kerajaan Tidore. Kerajaan Tidore berdiri pada tahun 1108 M dibawah kekuasaan Kolonel Belanda. Belanda berusaha untuk memonopoli bumi Maluku karena memiliki kekayaan rempah-rempah yang melimpah. Kerajaan Tidore mengalami masa kejayaan pada era Sultan Nuku dengan keadaan system pemerintahan yang telah berjalan dengan baik. Dalam menghadapi penjajahan Kolonial Belanda, Kerajaan Tidore mendapat bantuan dari Kerjaan Makassar yang berkedudukan di Pantai barat semenanjung Sulawesi Selatan untuk berjuang melawan Kolonial Belanda. Kerajaan Makassar menjadi persinggahan para pedagang karena lokasinya strategis dengan jalur perdagangan nusantara. Meskipun memiliki kekuatan yang besar dibawah kepemimpinan Sultan Hassanudian, Belanda mampu menumbangkan kejayaannya dengan melakukan politik devide et impera dan berdiplomasi dengan kerajaan Bone yang diperintah oleh Raja Aru Palaka melakukan pemberontakan terhadap Makassar. Kerajaan tersebut diatas berperan penting dalam persebaran Islam, keadaan perekonomian, budaya, serta politik pemerintahan di nusantara.
 
3



BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Agama Islam sudah dikenal masyarakat sejak dahulu. Banyak sekali cara penyebaran agama islam sehingga dapat diterma dengan mudahnya oleh masyarakat. Dalam hal ini, dahulu islam berkembang melalui kerajaan
 –
 kerajaan di Nusantara. Kerajaan Islam berkembang pesat di nusantara baik berasal dari penyebaran oleh para pedangang maupun melalui media lainnya. Seiring dengan persebaran agama Islam di nusantara banyak didirikan kerajaan Islam. Salah satu Kerajan Islam tertua di kawasan timur nusantara ialah Kerajaan Ternate, kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 hingga abad ke-17. Kerajaan Ternate pada umumnya disebut kesultanan Ternate memiliki kekuatan besar dibidang perekonomian karena memiliki kekayaan rempah-rempah dan daerah ini mengalami eksodus penduduk dari Halmahera. Oleh sebab tersebut Kerajaan Ternate memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan di nusantara dan padat penduduk. Kerajaan Islam yang berkedudukan di Maluku setelah Kerajaan Ternate ialah Kerajaan Tidore. Kerajaan Tidore berdiri pada tahun 1108 M dibawah kekuasaan Kolonel Belanda. Belanda berusaha untuk memonopoli bumi Maluku karena memiliki kekayaan rempah-rempah yang melimpah. Kerajaan Tidore mengalami masa kejayaan pada era Sultan Nuku dengan keadaan system pemerintahan yang telah berjalan dengan baik. Dalam menghadapi penjajahan Kolonial Belanda, Kerajaan Tidore mendapat bantuan dari Kerjaan Makassar yang berkedudukan di Pantai barat semenanjung Sulawesi Selatan untuk berjuang melawan Kolonial Belanda. Kerajaan Makassar menjadi persinggahan para pedagang karena lokasinya strategis dengan jalur perdagangan nusantara. Meskipun memiliki kekuatan yang besar dibawah kepemimpinan Sultan Hassanudian, Belanda mampu menumbangkan kejayaannya dengan melakukan politik devide et impera dan berdiplomasi dengan kerajaan Bone yang diperintah oleh Raja Aru Palaka melakukan pemberontakan terhadap Makassar. Kerajaan tersebut diatas berperan penting dalam persebaran Islam, keadaan perekonomian, budaya, serta politik pemerintahan di nusantara



1.2Rumusan Masalah

 1.2.1 Bagaimana kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Gowa Tallo?

Bagaimana kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Ternate? 
Bagaimana kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Tidore? 

1.3Tujuan Pembelajaran

1.3.1Mengetahui kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Gowa Tallo

1.3.2Mengetahui kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Ternate

1.3.3Mengetahui kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya di Kerajaan Tidore

 

BAB II
 PEMBAHASAN

2.1Kerajaan Gowa Tallo

2.1.1Awal Berdirinya 
Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan saudaranya 

2.1.2 Kehidupan Ekonomi Seperti yang kita ketahui bahwa kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak yang strategis, memiliki pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur

2.1.3 Kehidupan Sosial Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya.

2.1.5 Kehidupan Budaya Karena kerajaan Makassar bersifat maritime maka kebudayaannya dipengaruhi oleh keadaan tersebut, seperti pembuat alat penangkap ikan dan kapal pinisi. Sampai sekarang kapal pinisi dari Sulawesi Selatan masih menjadi salah satu kebanggan bangsa Indonesia. Disamping itu, masyarakat kerajaan Makassar juga mengembangkan seni sastra, yaitu kitab Lontara.
2.1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini

2.1.7Kesimpulan
Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Sejak Gowa Tallo sebagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan dengan Ternate yang sudah menerima Islam dari Gresik. Raja Ternate yakni Baabullah mengajak raja Gowa Tallo untuk masuk Islam, tapi gagal. Baru pada masa Raja Datu Ri Bandang datang ke Kerajaan Gowa Tallo agama Islam mulai masuk ke kerajaan ini.


2.2Kerajaan Ternate

 2.2.1Gubahan Kesultanan menjadi Kerajaan

 Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibu kotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh di kepulauan marshall di pasifik.

2.2.2  Asal Usul

 Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat empat kampung yang masing - masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama
  tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa

2.2.3Organisasi kerajaan Di masa

 masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut Kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.



2.2.4 Kedatangan Islam

Tak ada sumber yang jelas mengenai kapan awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan oleh banyak sumber. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.

2.2.5 Kedatangan Portugal dan perang saudara

 Di masa pemerintahan sultan bayanullah  (1500-1521), Ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islami, teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropa pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun 1512 Portugal untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan Fransisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate.
 
Gubernur Portugal bertindak sebagai penasihat kerajaan dan dengan pengaruh yang dimiliki berhasil membujuk dewan kerajaan untuk mengangkat pangeran Tabariji sebagai sultan. Tetapi ketika sultan tabariji mulai menunjukkan sikap bermusuhan, ia difitnah dan dibuang ke Goa

 India. Disana ia dipaksa Portugal untuk menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan Kristen dan vasal kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah sultan khairun (1534-1570). 2.2.6

Kedatangan Belanda Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi dengan Mindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal bahkan sultan Said Barakati berhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila.
2.2.6 Kedatangan Belanda

 Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi dengan Mindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal bahkan sultan Said Barakati berhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila. Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meminta bantuan Belanda tahun 1603

2.2.7  Perlawanan rakyat Maluku dan kejatuhan Ternate
 Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda pada sultan
 sultan Ternate semakin kuat, Belanda dengan leluasa mengeluarkan
peraturan yang merugikan rakyat lewat perintah sultan, sikap Belanda yang kurang ajar dan sikap sultan yang cenderung manut menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat Maluku.
2.2.8Warisan Ternate
 Imperium nusantara timur yang dipimpin Ternate memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad kemudian. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.

2.2.9 Kehidupan Ekonomi
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad XIV, kerajaan Ternate mulai maju karena berkembangnya perdagangan rempah-rempah.Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan


2.2.10 Kehidupan Sosial
Kedatangan bangsa Portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis  juga ingin mengembangkan agama katholik. Sultan Sairun adalah tokoh yang paling keras melawan orang Portugis dan usaha Kristenisasi di Maluku. Tokoh missi Katholik yang pertama di Maluku ialah Fransiscus Zaverius tahun 1546 M, ia berhasil mengkhatolikkan sebagian dari penduduk Maluku.

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
 Kerajaan Makassar atau Gowa Tallo berdiri abad ke-17 yang merupakan daerah islam yang berkembang cepat sebagai daerah maritime. Dibawah pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makassar meningkatkan sector perdagangan dan pelayaran. Tampuk kekuasaan yang mencapai puncak kejayaan ialah pada masa Sultan Hassanudin. Meskipun sering terjadi pertikaian menghadapi Belanda, tetapi ketangguhan Sultan Hassanudin tidak terklahkan. Ternate dan Tidore ialah awal kemasyuran rempah-rempah nasional didukung dengan  jalur perdagangan yang strategis serta perkebunan rempah-rempah di pulau-pulau subur sebelah selatan Maluku. Kerajaan Ternate bersekutu dengan Portugis, sedangkan Kerajaan Tidore dibantu oleh Spanyol. Kedua bangsa kulit putih, yaitu Portugis dan Spanyol bermusuhan memperebutkan kekuasaan monopoli. Namun, pada akhir perjuangan Kerajaan Ternate dan Tidore berdamai serta memberontak melawan Kolonial Belanda.
 3.2 Kritik dan Saran
Dalam makalah ini dimuat pembahasan dari empat aspek kehidupan, akan lebih baik jika aspek yang diulas cakupannya lebih luas lagi sehingga pembaca mampu memahami sejarah persebaran Islam di nusantra. Pembagian Kerajaan menjadi 3 daerah besar, yaitu Jawa, Sulawesi, dan Sumatera kurang fokus dan tidak secara umum. Sehingga untuk kedepannya bisa dibuat makalah pada kehidupan masing-masing Kerjaan dengan mempertimbangkan fakta sejarah secara oral atau dapat melalui penelitian dengan teori-teori yang termuat dalam media cetak maupun media elektronik.

DAFTAR PUSTAKA

 Andi Atjo, Rulis. 1989.
Peninggalan Sejarah Masa Lampau di Pulau Ternat.Makalah: Ambon.
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997.
TERNATE SEBAGAI BANDAR DI JALUR SUTRA: Kumpulan Makalah Diskusi 
. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktori masjid Bersejarah
. 2008. Departemen Agama RI, Direktorat Jendral Bimbingan
Masyarakat Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan pembiaan Syari’ah: Jakarta.
 Huda Nur. 2007.
Islam Nusantara Ar-ruzz
. Yogyakarta: Media. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (Peny). 1984.
Sejarah Nasional Indonesia III
. Jakarta: Balai Pustaka. Reid Anthony. 1992
. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I
 Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
TKS-DITJENBUD. 1995. “Istana Kesultanan Ternate,”
 Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI
. Jakarta: Depdikbud. Vie Haluchard. 2012.
Ternat Island 
, (online), (file:///D:/fd%20new/SIMI%20GAMBAR/ternate-tourisem-obyek.html), diakses 16 Desember 2012. Wikipedia. 2009.
Masjid Sultan Ternate
, (online), (file:///D:/fd%20new/SIMI%20GAMBAR/Masjid_Sultan_Ternate.htm), diakses 10 Februari 2009. Zuhairini dkk. 2006.
Sejarah Pendidikan Islam
. Jakarta: Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar